beranilah bermimpi...!
n Bermimpi Besar, Berpikir Besar...
Berpikir besar akan menghasilkan karya besar. Patih Gadjah Mada mempunyai mimpi besar seluruh negeri ini bersatu meski terdiri atas ratusan suku dan ribuan pulau. Ia bahkan bernadzar tidak akan makan buah mada sebelum nusantara ini bersatu. Ia kemudian besar dan ambisi demi ambisinya terpenuhi. Namanya diabadikan sebagai banyak hal, salah satunya adalah Universitas terbesar di Indonesia: Universitas Gadjah Mada yang berdiri tahun 1949.
Pak Sosro berpikir bahwa seluruh negeri ini penduduknya gemar minum teh dalam kemasan. Sebelumnya memang bangsa Indonesia gemar minum teh seduh di gelas atau poci atau cangkir, dan ini lebih nikmat. Akhirnya dengan berbagai cara pak Sosro ’ngerjain’ bangsa kita untuk minum teh menggunakan botol dan kotak kertas. Dan ia berhasil. Kebiasaan minum dengan cangkir, gelas atau pun poci semakin tidak dirasa praktis. Lebih bergengsi minum lewat botol atau kotak kertas. Padahal ini bukan cara wajar untuk meminum. Ini juga bukan cara yang lebih sehat. Kita sadar, tapi terbius. Apapun makanannya, minumnya teh botol sosro.
Hasan Al Banna mengatakan, “kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin, dan mimpi hari ini akan menjadi kenyataan hari esok”. Ia bermimpi dunia ini dipenuhi oleh pergerakan dakwah yang mengembalikan islam ke jaman kejayaan, seperti yang pernah terjadi dulu. Ia yakin sekali suatu saat nanti, secara terencana, islam akan memegang seluruh sistem kehidupan, menjadi guru bagi alam semesta. Ustadziyatul alam. Kini tanda-tanda itu mulai nampak dengan tersebarnya kader ’al-ikhwan’ hampir di seluruh negara, lengkap dengan kesertaan mereka dalam berbagai aktivitas politik.
Indonesia lautan jilbab, adalah mimpi segelintir aktivis yang diteriakkan belum lama ini, sekitar awal tahun 1980an. Kini di segala peristiwa dan memomentum anda melihat selalu ada wanita berjilbab. Di pengajian, jelas semua wanita berjilbab. Di Telkom, pegawai berjilbab tak dapat dihitung lagi. Di Bank swasta saya temui para teller berjilbab. Di gelaran enetertainment televisi pun banyak yang berjilbab. Kampus-kampus non-agama kini marak diserbu mahasiswi berjilbab.
Teman saya seangkatan di UGM (yang perempuan) pada semeter awal hingga semester lima hanya separuh yang berjilbab. Menjelang lulus hampir semuanya berjilbab, kecuali non muslim. Dan memang anggun jika wanita mau berjilbab. Saya melihat akhwat Papua berjilbab saat perhelatan MTQ. Kulit hitam berjilbab, pegang AL-Qur’an di serambi masjid adalah penampilan yang jauh lebih baik ketimbang memperlihatkan rambut keritingnya, membakar ubi dan mengelus babi di halaman gereja.
Benar, mimpi akan menjadi kenyataan. Sekarang, apa mimpi kita?
Saya menangkap keinginan teman-teman menjadikan wilayah tempat tinggalnya futuh, terbuka menjadi wilayah muslim dengan segala identitas dan aktivitas keislaman. Seluruh pemuda digerakkan. Ini mimpi yang baik, saya kira.
Namun sejauh manakah ”sense” mereka terhadap realisasi mimpi itu?.
Tidak terampil memanage organisasi, sekedar malas, atau memang terlalu banyak manusia rendah nyali telah membuat sekian banyaknya mimpi hanya menjadi bunga tidur belaka.
Akhirnya, mimpi besar itu hanya cover, hanya lamunan yang tak serius......